Semoga tulisan pada blog ini bermanfaat bagi Anda

Senin, 05 Desember 2011

Demokrasi di Sekolah

Demokrasi di Sekolah
Oleh    :  Taat Firmansyah
Kata demonstrasi pasti sudah tidak asing lagi bagi telinga kita. Demonstrasi yang dilakukan oleh para pekerja terhadap kebijakan perusahaan, mahasiswa terhadap kebijakan perguruan tinggi, dan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah. Misalnya, demonstrasi yang dilakukan oleh para pekerja atau buruh untuk menaikkan gajinya, mahasiswa yang merasa kebijakan dari perguruan tingginya tidak baik dan akhirnya tidak setuju. Dan yang sering kita dengar adalah demonstrasi masyarakat terhadap kebijakan pemerintah, seperti penurunan harga BBM, sembako dan sebagainya.
Namun, tidak sedikit demonstrasi yang berakhir dengan kerusuhan dan tindakan anarkis. Para demonstrasi yang bentrok mengakibatkan luka-luka bahkan kematian. Demonstrasi bentrok dengan aparat keamanan, demonstrasi anarkis seperti merusak fasilitas umum, membakar kendaraan pribadi, merusak pagar dan bangunan. Hal itulah yang sering kita saksikan dalam kehidupan nyata. Demonstrasi yang bentrok, demonstrasi yang merusak, itukah demonstrasi yang baik?. Banyak orang bilang bahwa demonstrasi adalah bentuk kegiatan dari demokrasi. Lalu, apa itu demokrasi?
Pengertian Demokrasi
Pada saat kita berkumpul dengan teman- teman, kemudian salah satu dari kita mengusulkan suatu permainan untuk dimainkan bersama, dan teman yang lain memberikan persetujuan atau menolak, lalu diskusi pun berlanjut untuk memperbincangkan permainan apa yang enak dimainkan saat itu. Misalnya setelah kegiatan belajar di kelas ada waktu tiga puluh menit sebelum waktu pengembangan diri, maka lima belas menit untuk main tenis meja dan lima belas menit untuk beristirahat. Dalam waktu lima belas menit itu kita berbincang mengenai siapa yang akan bermain tenis pertama, dan akhirnya dapat kita sepakati, dia lah yang akan bermain pertama, maka kita sedang melakukan praktek demokrasi. Kesadaran perbedaan pendapat menuntut kita untuk melakukan diskusi agar setiap individu merasa puas dengan keputusan yang diambil.
Menurut sejarah, kata demokrasi berasal dari bahasa Yunani, yaitu kata “ demos” yang berarti rakyat dan “ kratos/ kratein” yang berarti pemerintahan. Sehingga dapat dikatakan sebagai pemerintahan rakyat atau yang sering kita kenal pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.
Demokrasi Di Sekolah
Seperti yang telah kita lakukan juga di sekolah, yaitu pemberian suara pada pemilihan pejabat OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah). Pada saat itu kita diberi kebebasan untuk memilih salah satu dari berbagai calon yang akan diajukan sebagai ketua OSIS. Kita pasti juga mempertimbangkan calon yang hendak kita pilih. Pastikan kita tahu visi dan misi mereka, sehingga siapa yang kita pilih benar-benar memiliki kualitas seperti yang kita inginkan. Selain itu, coba kita amati perilaku mereka sehari- hari karena ketua OSIS akan menjadi manager pada kegiatan di sekolah.
Dalam proses belajar mengajar, coba kita berperan secara aktif. Berikan kontribusi berupa pertanyaan, usulan dan penelaahan secara aktif dalam diskusi kelompok. Ketidakpercayaan diri merupakan faktor untuk tidak bertanya, padahal semakin kita sering bertanya dan melakukan berbagai hal di atas kita akan semakin percaya diri. Yang tak kalah penting adalah semakin kita sering melakukannya, maka semakin baik pula kita melakukannya. Misalnya, bila kita memberi pertanyaan, maka kita akan semakin baik dalam kita bertanya. Mungkin pertanyaan yang kita ajukan pertama kali, tidak tertata dengan baik atau tidak berbobot, tetapi dengan banyak berlatih maka secara otomatis kualitas pertanyaan kita akan semakin meningkat, maka mulailah bertanya mengenai hal yang kita serap dari materi yang telah disampaikan. Walaupun kadang pertanyaan yang kita sampaikan ditertawakan, tidak apa. Itu yang kita jadikan motifasi supaya kita sering bertanya.
Selain memberi kritik usahakan juga memberikan saran. Hal ini tidak hanya akan memudahkan sekolah dalam mencari solusi dari permasalahan yang kita hadapi, namun hal ini juga melatih kita untuk berfikir kritis. Contoh, kita melihat bahwa meja di kelas banyak coretan kata-kata yang tidak sopan dan hal tersebut sering terjadi walaupun sudah berulang kali dilakukan pengecetan oleh sekolah. Dari pada hanya menyarankan: “ Pak, mohon diperhatikan meja kelas kotor sekali. Banyak terdapaat coretan, mohon dibersihkan”. Akan lebih baik lagi apabila kita juga mengusulkan solusinya. Misalnya,” Pak, meja kelas kotor sekali karena banyak coretan. Bagaimana kalau diberikan sanksi yang tegas kepada pelakunya”, atau “....bagaimana kalau tiga bulan sekali dilakukan pengecetan ulang oleh siswa yang menempati kelas tersebut supaya ada rasa memiliki dan ikut menjaga kebersihan?”.
Bapak/Ibu yang mengampu kita juga manusia yang demokratis. Mereka telah mendapat pelatihan yang cukup untuk menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar secara demokratis. Ada Guru yang meminta muridnya untuk memberikan kritik dan saran terhadap metode pembelajaran yang diterapakan. Hal ini dapat dijadiakn bukti bahwa guru pun manusia demokratis. Karena dengan kritik dan saran tersebut, guru mendapat gambaran mengenai model pembelajaran yang sesuai dengan murid-muridnya. Contoh, seorang guru Matematika dan K3LH di SMK Kehutanan Kadipaten, yang telah mengajar dua bulan di suatu kelas, meminta siswanya untuk memberikan kritik dan saran mengenai model pembelajaran yang harus dilakukan beliau. Dari kritik dan saran siswa, guru tersebut tahu bahwa pada umumnya siswa suka cara pembelajaran yang membangkitkan semangat, serius tapi santai sehingga tidak membosankan. Selain itu, guru juga mengetahui cara penyampaian terlalu cepat atau lambat. Dari situ Guru mendapat masukan yang sangat penting bagi kemajuan peserta didik maupun sang guru. Jika semua guru menerapkan semua kegiatan tersebut siswa pun akan merasa nyaman dalam proses belajar mengajar.
Meskipun begitu kita harus sadari bahwa kita adalah manusia muda yang masih dalam taraf perkembangan. Kita membutuhkan bimbingan dalam bertingkah laku dan pengembangan kepribadian kita, ada kalanya Guru kita memberikan teguran kepada kita, perinagatan, bahkan hukuman untuk pelanggaran yang kita lakukan. Hal itu ditegakkan demi terciptanya lingkungan kelas atau sekolah yang disiplin. Karena disiplin memang sangat penting dalam pengembangan kepribadian kita sebagai peserta didik.
Jadi bila kita merasa tidak puas karena usulan yang kita ajukan tidak segera ditindaklanjuti, atau calon yang kita pilih tidak mendapat suara terbanyak sehingga tidak terpilih menjadi ketua OSIS atau kelas, pastikan kita untuk membiasakan diri untuk tidak bersikap anarkis. Melakukan protes-protes yang mengakibatkan kerugain bagi sekolah atau kelangsungan belajar di kelas. Berfikiran positif, mungkin langkah yang perlu diambil butuh waktu atau dana, mungkin ada solusi yang lebih baik dari yang kita usulkan, atau pun ada siswa yang lebih baik untuk jabatan ketu OSIS dari yang kita berikan suara. Jadi secara sederhana, tanamkan kepada kita bahwa demokrasi tercipta hanya untuk kebaikan dan kemajuan. Bila praktik demokrasi mengarah pada perusakan dan pelanggaran kepada hak orang lain, maka itu sudah bukan demokrasi.

Tidak ada komentar: